Afizah news - Peserta Pertukaran Pemuda Muslim Indonesia dan Australia sempat berdiskusi mengenai fenomena munculnya kelompok ekstrim dan toleransi, saat berkunjug ke kantor ABC di Melbourne.

Sebagai bagian dari program kunjungan ke Australia, enam peserta Muslim Exchange Program asal Indonesia datang ke kantor ABC di kawasan Southbank, Melbourne.

Keenam peserta tersebut adalah Muhammad Sabeth Abilawa yang juga Direktur Social Development Dompet Dhuafa; Ratih Arrum, Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas YARSI di Jakarta; Deni Lubis, dosen dan salah satu penggagas program ekonomi Islam di Institut Pertanian Bogor; Lis Safitri dari pengusaha sekaligus guru di SMA Darussalam, Ciamis, Jawa Barat; serta Muhammad Zahrul Anam dosen di Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta.

Peserta Pertukaran Pemuda Muslim saat berada di studio TV ABC. Foto: Erwin Renaldi.
Peserta Pertukaran Pemuda Muslim saat berada di studio TV ABC. Foto: Erwin Renaldi.

Kunjungan mereka ke Australia bermaksud untuk lebih mengenal kondisi kehidupan Muslim di Australia sebagai warga komunitas.

Saat berada di kantor ABC, para peserta bertemu dengan staff dari ABC International, termasuk dari Australia Plus.

Materi yang didikusikan adalah soal kelompok garis keras dan ekstrimisme yang suaranya semakin nyaring.

Kami sempat menanyakan apa pendapat mereka soal semakin maraknya debat soal moral yang berakhir dengan cacian, mudahnya menuduh sesorang berdosa atau sesuatu haram, hingga kecenderungan saling memaki di antara sesama Muslim yang memiliki penafsiran berbeda.

Menurut Zahrul Anam, yang juga aktif di organisasi Muhammadiyah, penyebab mengapa suara mereka terdengar lebih keras adalah adanya revolusi media.

"Kelompok ekstremis kini menggunakan jejaring sosial, seperti Facebook untuk mengekspresikan pemikiran mereka dan mempengaruhi orang-orang dengan pemahamannya," ujar Zahrul Anam.

"Mungkin di zaman Orde Baru, bahkan keberadaan mereka pun tidak diketahui. Tetapi setelah reformasi, kelompok garis keras semakin banyak bermunculan, sehingga kita merasa seolah mereka mendominasi."

Peserta dengan Sastra Wijaya (ketiga dari kiri) dan Ibrahim (keempat dari kiri) dari Australia Plus. Foto: Erwin Renaldi.
Peserta dengan Sastra Wijaya (ketiga dari kiri) dan Ibrahim (keempat dari kiri) dari Australia Plus. Foto: Erwin Renaldi.

Ratih Arrum, yang sudah banyak berurusan dengan urusan psikologi dan kesehatan mental mengatakan warga Indonesia umumnya haus akan sosok pemimpin yang karismatik.

"Karenanya, mereka dengan penampilan yang berkarisma akan mudah menarik massa, lalu warga mengikutinya dan dengan mudahnya dipengaruhi," ujar Ratih.

Padahal, para peserta pertukaran pemuda Muslim sepakat, bahwa opini pemimpin seperti itu belum tentu benar. Tetapi orang biasanya kagum dengan penampilan luarnya.

"Mayoritas Muslim di Indonesia terlahir sebagai Muslim, jadi mereka merasa menjadi Muslim adalah hal yang biasa," tambah Ratih.

"Kadang jika ada informasi yang didapatkan dari media, mereka tidak mengkritiknya dan hanya menerima. Sepertinya mereka tidak terlalu memiliki motivasi lebih untuk belajar lebih dalam."

"Bandingkan dengan Muslim di Australia, mereka berjuang dengan identitasnya sebagai Muslim, tak jarang mereka mempertanyakan apa sebenarnya itu Islam sehingga terus belajar," jelas Ratih.

Houda Merhi, pemandu peserta yang juga seniman asal Melbourne, mencoba menjadi pembawa berita cuaca. Foto: Erwin Renaldi.
Houda Merhi, pemandu peserta yang juga seniman asal Melbourne, mencoba menjadi pembawa berita cuaca. Foto: Erwin Renaldi.

Lantas apakah Muslim kebanyakan di Indonesia harus lebih giat untuk aktif menyuarakan pemikirannya dan mengalahkan kelompok garis keras yang lebih sedikit jumlahnya?

"Mereka yang punya ilmu, mendapatkan studi secara formal di universitas dan institusi bisa diakui belum terlalu banyak memberikan banyak penjelasan," kata Lis Safitri. "Kadang mereka menuliskannya lewat sebuah artikel tapi hanya dibaca oleh mereka yang memiliki pendidikan, sehingga pada akhinya suara mereka tidak terlalu terdengar."

Rencananya para peserta akan mengunjungi sejumlah lembaga Muslim dan bertemu tokoh-tokoh Muslim di Melbourne dan Sydney. Mereka akan membicarakan masalah-masalah yang sama-sama mereka hadapi.

Mereka juga berharap dapat belajar banyak bagaimana kehidupan toleransi antar warga di Australia yang berasal dari berbagai suku bangsa.

(nwk/nwk)

Post a Comment

 
Top